Di siang hari
itu, Agnes datang tepat waktu, bersama dua asisten dan seorang sopir.
Kulitnya coklat mengkilat, atau
tanned dalam bahasa Inggris,
seperti habis kena guyuran sinar matahari. Ia memakai atasan tanpa
lengan warna hitam, celana pendek putih, kalung emas panjang, dan sepatu
wedges hitam. Rambut sebahunya tersapu bersih ke belakang dan dikuncir tinggi, membuat wajah cantiknya semakin kentara.
Perempuan
26 tahun ini kabarnya tengah menjalani penggarapan album terbarunya
yang disebut-sebut internasional karena melibatkan produser tersohor,
Timbaland (
jejak karyanya selama ini mencakupi nama-nama seperti Justin
Timberlake, Missy Elliott dan Jay-Z). Yang juga masih gres adalah lagu
“Muda (Le O Le O)”, terbit atas kerja sama Agnes dengan kartu telepon
seluler Simpati. Tapi untuk kedua proyek ini, atau paling tidak
kelanjutan dari “Muda”, Agnes memilih untuk tutup mulut.
“Saya belum boleh cerita,” ujarnya pendek.
Memulai karier dengan merilis album anak-anak di usia enam tahun, Agnes
kemudian merilis dua album anak-anak lagi. Nama dan wajahnya semakin
santer di seantero Indonesia saat ia menjadi pembawa acara beberapa
program televisi anak-anak. Masuk remaja, Agnes bergeser masuk ke
sinetron. Setelah
Lupus Millenia dan
Mr. Hologram,
Pernikahan Dini melontarkan namanya ke jagad hiburan. Predikatnya bertambah satu, kini ia juga bisa disebut sebagai aktris.
Di tahun 2003 saat usianya 17 tahun, ia mengeluarkan album
And the Story Goes dengan
kelir musik R&B dan pop (jenis musik yang kemudian hampir selalu
lekat dengan Agnes). Penyanyi anak-anak itu sudah menjadi penyanyi
remaja. Dua tahun kemudian, album
Whaddup A’..?! dirilis dan
menghasilkan lagu hit “Tak Ada Logika”. Album ini mendapat penghargaan
antara lain dari AMI Awards dan MTV Indonesia Awards.
Ucapan keinginan
go international yang pernah keluar dari
mulutnya seperti tak pernah selesai jadi pembicaraan. Namanya di
Indonesia sampai-sampai hampir sinonim dengan frase
go international. Tapi itu juga kemudian jadi bahan cibiran. Agnes dianggap belum juga membuktikan bahwa ia bisa masyhur di kelas dunia.
Faktanya, sejak tahun 2005 ia mulai bekerja dalam tataran internasional. Agnes mengajak penyanyi Keith Martin dalam album
Whaddup A’..?!, dan terlibat dalam dua serial Taiwan,
The Hospital dan
Romance in the White House.
Pada Asia Song Festival tahun 2008 dan 2009 di Seoul, Korea Selatan, ia
mendapat penghargaan Best Asian Artist. Setahun setelahnya, ia menjadi
salah satu pembaca acara karpet merah di American Music Awards, Los
Angeles.
Soal memperoleh nominasi dan penghargaan, Agnes bisa dibilang jadi langganan. Ia antara lain masuk nominasi dalam daftar
Worldwide Act Asia Pacific di MTV Europe Awards 2011, nominasi
Favorite Asian Act di American Nickelodeon Kids Choice Awards 2012, dan menang sebagai
Best Asian Artist Indonesia
dalam Mnet Asian Music Awards 2012, salah satu acara penghargaan musik
paling bergengsi di Korea Selatan. Ini di luar penghargaan AMI Music,
Panasonic Awards dan MTV Indonesia Awards. Yang paling baru, Agnes masuk
dalam nominasi
Best Female Artist dalam World Music Awards 2013 yang berbasis di Monaco.
Sampai kini, Agnes telah merilis tujuh album (terakhir adalah kumpulan lagu terbaik,
Agnes is My Name,
2011). Pada Desember 2012, ia menjadi salah satu pembicara dalam acara
Global Youth Forum milik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Bali. Lagu
duetnya dengan Timbaland direncanakan menjadi
theme song program Global Youth Forum ini.
Di The Conga Room, Los Angeles, pada 8 Februari (9 Februari waktu
Indonesia), Agnes mencatat satu lagi sejarah dengan tampil di pesta
menjelang acara penghargaan Grammy 2013. Dalam acara prakarsa PBB untuk
meluncurkan
platform mPowe-ring Action ini, Agnes membawakan
lagu yang diproduksi oleh Timbaland,
“Show A Little Love”. Di panggung
yang sama, Justin Timberlake yang hadir sebagai kejutan tampil bersama
Timbaland, berlanjut pada penyanyi Estelle dan ditutup oleh Avicii.
Di antara cemoohan yang selalu ada dan dorongan penggemarnya yang
terkenal militan (di Twitter, ada tak kurang dari 24 akun dengan titel
penggemar Agnes Monica) alias begitu gesit menangkis atau menyerang
sedikit saja omongan miring tentang idolanya, Agnes terus mengeluarkan
karya. Kegigihannya yang liat bisa kita duga berasal dari disiplin kedua
orang tuanya, mantan pemain tenis meja dan bulutangkis. Di salah satu
episode acara Kick Andy, Agnes mengungkapkan ia tumbuh dalam keluarga
dengan mentalitas atlet.
Saat bicara, ia terlihat cerdas, mengungkapkan pendapat dengan runut,
juga bersemangat. Matanya sering berbinar-binar, dan tangannya
bergerak-gerak seperti mengikuti laju kata-katanya yang deras. Satu
pertanyaan bisa ia jawab dengan begitu panjang.
Semangat positif, membangun dan ketaatannya pada Tuhan mendominasi
hampir setiap jawaban Agnes, sampai kadang rasanya seperti sedang
membaca buku
self-help atau pembangkit motivasi. Tapi itu semua
keluar toh karena ia sudah melewati dan mengalami banyak hal, seperti
pembuktian diri, melibas masalah sampai bersiasat dengan para pembenci
(biasa disebut
haters) yang sigap mencerca Agnes. Walau ia
bilang ‘tidak peduli’, dalam beberapa jawabannya di bawah kita bisa
menangkap bahwa kata-kata benci itu pernah menembus benteng dirinya.
Mestinya dalam waktu yang tak terlalu lama lagi keluar album Agnes
bersama
Timbaland, keinginannya sejak lama. Dan sekali lagi Agnes akan
membuktikan: bakat, kemauan baja, dan kerja keras mampu mengubah
mimpinya menjadi nyata.
Dalam waktu yang terlalu pendek (Agnes patuh pada jadwal padatnya),
Rolling Stone bicara dengannya tentang pandangan orang terhadap dirinya, dunia hiburan Indonesia, dan, tentu saja,
go international.
Dapat nominasi penghargaan kesekian kalinya, apa artinya untuk Agnes?
[
Tertawa]
Kalau ingin tahu nggak apa-apa ya, cuma kadang-kadang yang lucu itu
orang yang nyinyir atau merasa lebih tahu saya daripada saya sendiri.
Merasa lebih tahu apa yang harus saya hadapi daripada saya sendiri. Cuma
ya itu yang pada akhirnya, jujur, membuat saya semakin nggak mau
ngomongin orang. Nggak mau nyinyir, nggak mau mengurusi urusan orang.
Banyak hal yang kita nggak tahu 100% tentang apa yang terjadi di hidup
orang. Ada hal-hal yang untuk konsumsi pribadi dan ada hal-hal yang
memang untuk konsumsi publik.
Jadi saya selalu berusaha menilai “ya sudahlah” kalau ada orang seperti itu. Saya belajar
love and forgiveness dari situ. Belajar untuk lebih bersyukur, karena saya benar-benar belajar, satu-satunya cara untuk
happy itu sebenarnya bukan dari apa yang kita raih saja, tapi bagaimana caranya bisa mencintai dan memaafkan. Dan
be grateful of the little things that we have.
Di ajaran agama saya, Kristen, kasih adalah ajaran utama. Kita harus
mengasihi orang bukan cuma mereka yang sayang sama kita tapi juga
mengasihi orang yang justru membenci kita. Di situ saya belajar, saat
kita sudah bisa mengasihi dan memaafkan orang-orang yang mungkin nggak
suka dengan kita, nggak suka karena hatinya penuh dengan kebencian,
hidup kita justru lebih santai. Mau diomongin orang seperti apa, setiap
hari aku berdoa pada Tuhan.
Thank you, Tuhan, paling tidak saya sudah bisa pulang ke
ranjang sendiri, saya bisa membiayai karyawan, sudah bisa ke mana-mana
pakai mobil. Masalah mengingatkan kita untuk terus bersyukur. Saya
mencoba untuk terus bersyukur
even for those little things, and I’m so happy.
Menjalaninya pun tenang. [Omongan orang] kalau mau diikuti, sakit hati
melulu kali. Cuma ya pada saat itu saya mulai berpikir, kasihan
orang-orang yang kalau mau bahagia harus ngomongin orang. Saya terima
kasih pada Tuhan karena saya sudah bisa bahagia tanpa harus ngomongin
orang, tanpa harus merasa
insecure, karena sudah ada prestasi saya sendiri.
Seperti lirik di lagu “Muda”, “Hidupku itu adalah aku/Hidupmu itu adalah kamu”?