Dena Rahman : I'm Bigger Than Transgender



Mantan artis cilik Dena Rachman yang dulu lebih dikenal dengan nama Renaldy mengaku kesal jika orang memandangnya hanya sebagai seorang transgender. Menurutnya, ia lebih dari itu.
 "I'm bigger than just a transgender. Sorry! I just don't like when people see only the transgender part and disregard other quality," ungkapnya.
Bukan tanpa alasan Dena mengatakan hal tersebut. Soalnya sejak kecil, artis kelahiran Jakarta, 30 Agustus 1987 itu memang tergolong cerdas dan punya prestasi dalam bidang akademis."Aku selalu juara kelas, at least 3-5 besar. Dan sempat juara umum ke-2 waktu kelas 2 di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 6, Jakarta Selatan," kata anak kedua dari empat bersaudara itu.
Selepas SMA, mantan presenter Krucil di SCTV itu pun kemudian berkuliah dan lulus dari salah satu universitas paling bergengsi di negeri ini. Bahkan lebih membanggakan lagi, kini ia tengah berjuang menempuh pendidikan pascasarjana di Italia.
"Aku dulu kuliah di FISIP UI jurusan komunikasi dan sekarang lagi ambil master, tepatnya MBA in Design, Fashion & Luxury Goods di Alma Graduate School – University of Bologna, Italia," jelasnya.





Kendati mengawali kiprahnya dari dunia entertainment, namun ketertarikan Dena sesungguhnya lebih kepada dunia fashion. Namun, ia tak ingin menjadi perancang busana.
"I like entertainment, tapi dari aku kecil kalau ditanya pasti aku jawab mau jadi pengusaha, eh ternyata terbawa sampai sekarang. Fashion has always been my passion since I was little. But I don't wanna be designer. I chose to be fashion entrepreneur, from the business part, Moneywise!" paparnya.
Lantas dalam beberapa fotonya di internet, kenapa ada dirinya tampil di catwalk? Apakah ia juga seorang model?
"Iya, tapi occasionally saja. Kadang-kadang ada yang minta aku untuk jalan atau foto, ya sudah aku terima saja. Tapi bukan berarti aku langsung mau ke Milan jadi model. Hahaha. So funny," ujarnya diiringi tawa.
Lantaran belakangan dalam beberapa forum di internet namanya dipergunjingkan, Dena pun merasa kecewa. Ia mengaku setiap orang bebas berpendapat, tetapi alangkah baiknya dicek terlebih dahulu kebenarannya.
"Tak kenal maka tak sayang. Mereka bisa kayak gitu mungkin karena mereka nggak kenal aku. Jadi ya cuma tahu aku seorang transgender. You can never really know what it feels like, so stop judging (for anything), Kalau sama lingkungan, aku diperbincangkannya berdasarkan kualitas lain yang aku punya dan tidak berdasarkan rumor yang dibuat-buat. Alangkah baiknya kalau beritanya dicek dulu kebenarannya jadi tidak sampai merugikan pihak lain," tambahnya.
Oleh karenanya, Dena lebih memilih untuk memikirkan orang-orang di lingkungannya yang mencintainya ketimbang yang membencinya. Ia hanya berharap masyarakat lebih mempelajari bagaimana menghormati kehidupan orang lain.
"I'm too busy loving people who love me, no time for haters. Dan satu hal yang perlu dipelajari oleh bangsa kita yaitu respect. That’s it! What a beautiful life will be with just a little respect!" ucapnya.